
“Latsar Menwa merupakan proses pendidikan yang memadukan keterampilan taktis, wawasan kebangsaan, kemampuan manajemen kelompok, serta pembentukan mental yang tangguh. Kehadiran saudara-saudara menunjukkan komitmen untuk mengembangkan kapasitas diri dalam bidang kepemimpinan,” ujar Prof. Paul Tamelan pada Senin (13/7/2026).
Manajemen Undana turut menyampaikan lima pesan utama kepada para peserta, yang meliputi penegakan disiplin dan etika, pemeliharaan kerja sama tim, penanaman rasa cinta tanah air melalui tindakan nyata, pengutamaan faktor keselamatan selama latihan, hingga pengembangan kapasitas intelektual. Apresiasi juga diberikan kepada seluruh pembina, instruktur, dan Satuan Tugas yang telah mempersiapkan pelaksanaan diklat agar berjalan aman, tertib, serta memenuhi standar keselamatan.
Komitmen Pendanaan Nonakademik Kampus untuk Hadapi Tantangan Global
Pimpinan universitas melihat bahwa di tengah tantangan global dan dinamika pembangunan saat ini, peran pemuda yang memiliki integritas dan kemampuan beradaptasi menjadi semakin strategis bagi masa depan bangsa. Oleh karena itu, Undana berkomitmen untuk terus mengucurkan dukungan penuh terhadap berbagai program pengembangan kapasitas kemahasiswaan.


Dukungan tersebut akan disalurkan secara berimbang, baik melalui jalur kegiatan akademik maupun nonakademik. Program-program penunjang ini akan diorientasikan secara konsisten pada penguatan rasa nasionalisme, karakter, dan aspek kepemimpinan, sehingga para kader Menwa siap diterjunkan untuk mengabdi kepada masyarakat di Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Mengikis Sikap Apatis Mahasiswa dan Membentuk Lapis Pertahanan Sipil Kampus
Pelaksanaan Latsar Menwa Mahadana Angkatan XLI di lingkungan Undana ini membawa dampak perubahan mentalitas yang sangat signifikan bagi lingkungan perguruan tinggi di Indonesia Timur. Di era modern, dinamika kehidupan kampus sering kali dihadapkan pada tren meningkatnya sikap apatis, individualisme, serta melemahnya kesadaran bela negara di kalangan mahasiswa baru. Tanpa adanya wadah pembinaan mental yang terstruktur, organisasi kemahasiswaan rawan terjebak dalam pusaran kegiatan seremonial yang tidak produktif, yang gagal membentuk ketangguhan psikologis mahasiswa saat menghadapi tekanan dunia kerja maupun problem sosial di daerah.

Sikap pasif dan rapuhnya mentalitas generasi muda ini berpotensi menghambat munculnya figur pemimpin baru yang tangguh di NTT. Melalui standardisasi kurikulum Latsar Batalyon 961/Rajawali Hitam ini, potensi kerentanan karakter tersebut dapat ditekan secara sistematis. Dampak jangka panjangnya, Undana kini memiliki lapis pertahanan sipil dan kader kepemimpinan yang terlatih secara taktis serta matang secara intelektual di tingkat universitas. Para lulusan Latsar ini tidak hanya dibekali kedisiplinan fisik untuk mengawal ketertiban internal kampus, tetapi juga memiliki keahlian manajemen kelompok dan ketahanan mental yang tinggi.
Pembentukan karakter yang kokoh ini memastikan para mahasiswa siap bertransformasi menjadi penggerak pembangunan di berbagai situasi krisis masyarakat, sekaligus mengukuhkan posisi Undana sebagai poros utama pencetak sdm profesional yang siap mengabdi demi kemajuan Provinsi Nusa Tenggara Timur. (Alk)
Editor : Ollien Manggol – Foto : Maressa Solle














